asd
Thursday, July 25, 2024
spot_img

Total Rp 725 Juta KN Kasus Asrama Haji Dikembalikan, Kajati : Dari Beberapa Orang yang Korupsi

BencoolenTimes.com, – Tim penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bengkulu kembali menyita uang Kerugian Negara (KN) dari penyidikan dugaan korupsi pembangunan tahap satu Gedung Asrama Haji Bengkulu tahun 2020 senilai Rp 38 miliar yang menjerat satu orang tersangka yakni S, Direktur Utama (Dirut) PT. Bahana Krida Nusantara (BKN) selaku kontraktor pelaksana kegiatan.

Pengembalian kerugian negara itu berasal dari tersangka S senilai Rp 450 juta. Kemudian dari saksi M yang merupakan pihak swasta pertama senilai Rp 75 juta dan kedua Rp 200 juta. Sehingga, total keseluruhan KN yang dikembalikan Rp 725 juta.

Kepala Kejati Bengkulu, Dr. Heri Jerman, SH, MH menjelaskan bahwa, kerugian negara itu dari beberapa orang yang diduga melakukan tindak pidana korupsi pada pembangunan Asrama Haji Kemenag Bengkulu.

“Dari Asrama Haji Kemenag Provinsi Bengkulu. Ini merupakan bagian dari pada tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh beberapa orang. Totalnya sudah kita dapatkan senilai Rp 725 juta. Kita masih akan cari lagi sampai kerugian negara setidak-tidaknya bisa kita pulihkan,” kata Heri Jerman di Kejati Bengkulu, Kamis (10/8/2023).

Heri Jerman menyatakan, upaya pemulihan kerugian negara akan terus dilakukan, tentu bukan hanya dengan sukarela mengembalikan KN. Namun Kejati juga akan melakukan tindakan-tindakan lainnya seperti penyitaan aset dan sebagainya.

“Tapi untuk saat ini kita masih akan melihat perkembangan. Mudah-mudahan kasus Asrama Haji dapat kita tuntaskan, kita masih menunggu total resmi kerugian dari kasus tersebut dan saat ini tim penyidik bersama lembaga auditor masih melakukan upaya perhitungan,” ungkap Heri Jerman.

Heri Jerman menyebutkan, keeugian negara Rp 200 juta dari saksi M itu merupakan uang dari hasil Fee pinjam bendera.

“Ternyata perusahaan yang ditunjuk, yang menang ini minjam bendera dia dan yang punya perusahaan dikasih fee ini. Merasa bersalah mungkin, lalu dikembalikan,” jelas Heri Jerman.

Heri Jerman menambahkan, estimasi sementara kerugian negara hitungan dari penyidik sebesar Rp 1,3 miliar hingga Rp 1,5 miliar.

Untuk diketahui, kasus dugaan korupsi revitalisasi Asrama Haji tahun 2020 yang dananya bersumber dari APBN dengan Satker kegiatan yakni Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu tersebut bermula dari putusnya kontrak dan tidak dibayarkannya asuransi jaminan uang muka oleh Jasindo.

Kemudian, Kanwil Kemenag Provinsi meminta bantuan bidang Datun Kejati Bengkulu untuk melakukan penagihan asuransi jaminan uang muka terkait putus kontrak revitalisasi Asrama Haji Bengkulu tersebut. Namun, mediasi yang dilakukan Bidang Datun Kejati tidak membuahkan hasil, hingga akhirnya kasus tersebut bergulir ke Bidang Pidsus Kejati Bengkulu.

Pada tingkat penyidikan, Pidsus Kejati Bengkulu telah meminta keterangan pihak Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu sebagai saksi, antara lain Zahdi Taher selaku Mantan Kepala Kemenag Provinsi Bengkulu selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) waktu itu dan Ramlan selaku mantan Pejabat Pelaksana Kegiatan (PPK). (BAY).

Related Articles

Latest Article

admin2
admin2
Untuk Informasi lebih lanjut tentang berita yang anda baca silahkan menghubungi kami. +6281382248493
error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!