-1.7 C
New York
Tuesday, March 3, 2026

Buy now

spot_img

Sepotong Cerita Hilangnya Badak dan Ancaman Kepunahan Gajah di Bengkulu

BencoolenTimes.com – Sepotong cerita hilangnya Badak Sumatera dan ancaman serius kepunahan Gajah di Provinsi Bengkulu, menjadi hal yang nyata dari dampak kerusakan hutan yang terus saja terjadi beberapa tahun belakangan.

Bahkan terungkap, Habitat Gajah Sumatera di Provinsi Bengkulu hanya tersisa sekitar 25 Ekor, yang artinya jika tidak dijaga bersama, Habitat Gajah ini akan menyusul nasib Badak Sumatera di Provinsi Bengkulu yang hilang alias punah.

Hal ini juga sempat disampaikan Wakil Menteri (Wamen) Kehutanan, Rohmat Marzuki, saat mengunjungi kawasan hutan di Provinsi Bengkulu, tepatnya di Mukomuko yang menjadi salah satu rumah gajah Sumatera, beberapa waktu lalu.

Terungkap juga, salah satu yang menjadi musuh utama hilangnya habitat spesies di lindungan tersebut, yaitu kerusakan hutan akibat perkebunan sawit-sawit illegal di kawasan hutan Kabupaten Mukomuko.

Padahal dulu, kawasan hutan Provinsi Bengkulu, menjadi salah satu surga Hewan maupun tumbuhan langka di Indonesia. Karena bukan hanya Badak dan Gajah, Hutan Bengkulu memiliki hewan dan tumbungan dilindungi lainnya, seperti Harimau Sumatera, Bunga Rafflesia dan Bunga Bangkai, serta spesies hewan dan tumbuhan lainnya. Namun salah satu diantaranya, yaitu Badak Sumatera, kini dinyatakan hilang alias punah dari Hutan Bengkulu pada sekitaran tahun 2025.

Salah satu petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Rasidin menceritakan kenangannya dalam upaya menyelamatkan Badak Sumatera saat tergabung dalam operasi Rhino Patroli Unit (RPU).

Baca Juga  Senator Destita Kunjungi PLG Seblat, Tekankan Perlindungan Habitat Gajah Sumatera di Bengkulu

‘’Saya bergabung dalam RPU itu tahun 1998 hingga 2002. Sebelum saya bergabung, sebetulnya sudah ada program penyelamatan badak,’’ ungkap Rasidin.

Rasidin menyebutkan, kisaran tahun 1998 hingga 2002 masih ditemukan Badak Sumatera di wilayah Air Dikit, Bantal Kiri dan Kanan, Kabupaten Mukomuko.

‘’Kami saat itu bertugas patroli badak, mendeteksi keberadaan badak, serta pengamanan. Kala itu masih diperkirakan ada sekitar lima ekor badak,’’ sebut Rasidin.

Keberadaan badak di Kabupaten Mukomuko, tepatnya dalam Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) diindikasikan dengan beberapa temuan. Mulai dari bekas kubangan, jejak kaki, fases, urine dan daun yang dimakan khas badak yang seperti dipilin, termasuk temuan bekas Garukan Cula di pohon dan tebing-tebing.

Bahkan selama lima tahun tergabung dengan RPU, Rasidin mengaku tidak pernah bertemu secara fisik dengan Badak Sumatera. Namun dirinya ikut serta menemukan jejak dan poto Badak Sumatera yang tertangkap kamera pengintai (kamera trap).

‘’Memang saya belum pernah bertemu langsung secara fisik, namun masih sempat ikut menemukan jejak-jejak keberadaan Badak Sumatera di Bengkulu waktu itu. Termasuk memalui beberapa tangkapan kamera pengintai yang hasil fotonya belum secanggih sekarang,’’ terang Rasidin.

Hingga menjelang tahun 2004, keberadaan Badak Sumatera di Bengkulu sudah sama sekali tidak lagi terlihat, termasuk jejaknya dan sekitaran tahun 2005 dinyatakan punah, karena tidak diketahui kemana hilangnya badak-badak terakhir tersebut.

Baca Juga  Senator Destita Kunjungi PLG Seblat, Tekankan Perlindungan Habitat Gajah Sumatera di Bengkulu

‘’Informasi kami dapat ada yang ditangkap pemburu lalu dijual ke pasar gelap. Setelah itu memang tidak pernah lagi ditemukan jejak, bekas, atau tanda-tanda yang mengindikasikan keberadaan Badak Sumatera di Bengkulu,’’ lanjut Rasidin.

Menurut Rasidin, meskipun dinyatakan punah di Bengkulu, Badak Sumatera pada era 1990 an, ada satu ekor berjenis kelami Betina yang berhasil diselamatkan.

‘’Ada satu badak betina berhasil diselamatkan ke Kebun Binatang Cincinnati Amerika Serikat. Dari cerita senior-senior, Badak Betina yang diselamatkan tersebut sekitar tahun Sembilanpuluh Tiga dan saat itu saya masih SMA atau belum bergabung dalam tim,’’ sambung Rasidin.

Bahkan Badak Betina asal Bengkulu tersebut, hingga saat ini masih berada di Amerika Serikat dan sudah beranak pinak setelah dikawinkan dengan Badak Jantan asal Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), bernama Rosa.

‘’Badak merupakan hewan soliter serta sensitive dansangat rentan tekena penyakit kista atau gagal Rahim yang menyebabkan sulitnya Badak berkembang biak karena reproduksinya terganggu,’’ terang Rasidin.

Hilangnya Habitat Badak Sumatera dari Hutan Bengkulu diharapkan tidak sampai terulang pada Habitat Gajah Sumatera yang saat ini jumlahnya sudah kritis di alam liar maupun yang ada di tempat rehab atau penangkaran.

Baca Juga  Senator Destita Kunjungi PLG Seblat, Tekankan Perlindungan Habitat Gajah Sumatera di Bengkulu

‘’Apalagi saat Badak Sumatera dinyatakan hilang atau punah, kondisi hutan Bengkulu masih jauh sangat baik dari kondisi saat ini. Tapi memang yang menjadi penyebab lainnya, perburuan liar dan perdagangan di Pasar Gelap,’’ kata Rasidin.

Begipun dengan Gajah Sumatera di Bengkulu, musuh utamanya adalah ancaman hilangnya rumah, yaitu hutan tempat dimana mereka hidup dan berkembang biak selama bertahun-tahun.

Kondisi hutan rumah Gajah Sumatera semakin hari semakin memprihatinkan, tidak hanya akibat perambahan Ilegal, tapi juga perluasan perkebunan sawit oleh perusahaan maupun masyarakat, menjadi ancaman serius bagi Habitat Gajah di Bengkulu.

Ditambah lagi Gajah Sumatera Jantan, yang Gadingnya memiliki nilai jual tinggi, masih terus di intai perburuan. Meskipun jumlah Gajah Sumatera Jantan yang memiliki Gading sudah minim.

Rasidin berharap, Pemerintah serius mengupayakan perlindungan dan pelestarian Habita Gajah Sumatera, khususnya pada hutan di Provinsi Bengkulu. Diantaranya dengan perbaikan atau restorasi kawasan hutan yang rusak akibat perambahan illegal dan pengembangan kebun sawit yang seharusnya bisa di kendalikan.

‘’Kita hanya berharap, jangan sampai Gajah Sumatera di Bengkulu nasibnya sama nanti dengan Badak Sumatera, hilang alias punah. Tapi kita tetap optimis hal tersebut bisa diantisipasi, jika memang upaya-upaya restorasi kawasan hutan yang menjadi Habitat Gajah Sumatera ini dilakukan dengan serius,’’ imbuh Rasidin.(OIL)

Popular Articles

spot_img

Stay Connected

0FansLike
3,671FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles

error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!